Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

Si Anak Jalang


Embun pagi ini masih begitu terasa. Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang. Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan. Terlihat sesosok anak kecil yang belum genap berusia 10 tahun. Pakaian putih dan celana merah yang dikenakannya menambah semaraknya pagi ini.
“aku pergi dulu ya mak” ucapnya. “uhuk…uhuk… hati-hati ya nak” jawab ibunya yang sejak seminggu lalu sakit. “hati-hati kalau ketemu konde…nanti kamu terseret” sambung sang ibu yang cemas terhadap anaknya. “iya bu” ucapnya sambil mencium tangan halus dan lembut ibunya. Sang ibu pun mencium keningnya dan seperti mengucapkan sebuah do’a untuknya.
Inilah Haris Nursalam. Sebuah nama yang bagus untuk orang semiskin dia. Nama ini diberikan oleh seorang ustadz di desa Sungai Penibung, Kutipang Raya. Nama ini memiliki arti “penjaga cahaya keselamatan” . dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Ketika dia berumur 6 tahun ayahnya pergi meninggalkannya dan sang ibu untuk pergi bekerja ke ibukota. Sampai kini kabar tentang ayahnyapun tiada didapati.
Sekolah haris memang jauh dari rumah. Jaraknya bisa mencapai 5 km. Apalagi dengan kondisi jalan yang bisa dibilang tidak cukup bagus. Bahkan bisa dibilang hancur. Kalau hujan turun bisa dipastikan haris dan teman yang lain tidak bisa melewati jalan itu. Itupun baru sampai sungai konde yang mengalir deras memisahkan dua perkampungan sederhana. Apalagi semenjak ada pabrik kelapa yang berada didesa sebelah membuat kondisi jalan semakin parah kerusakannya. Hal ini terjadi karena mobil pabrik yang setiap hari beroperasi dengan mengangkat beban yang melebihi kapasitas jalan sehingga jalan banyak yang hancur.
Hidup yang begitu berat ini tidak membuatnya patah semangat dalam menjalani hidup. Selalu saja tampak wajah yang ceria keluar dari parasnya yang mungil. Senyumnya yang khas membuat orang semakin yakin kalau hidupnya tanpa masalah, padahal masalah yang ditanggungnya cukup besar untuk anak sekecil itu.
Sepulang dari sekolah ia harus cepat-cepat pulang kerumah. Tak bisa ia habiskan waktu siangnya untuk bermain bersama-sama dengan temannya yang lain. Ia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan. Bahkan ia harus bekerja untuk bisa makan sesuap nasi.
***
“Assalamualaikum” suara itu terdengar sayup-sayup dihadapan sebuah rumah reyot. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lantainya terbuat dari batang pohon pinang yang dibelah menjadi 2 kemudian disusun menjadi lantai. Atapnya terbuat dari rumbia. Rumahnya berukuran 5 x 6 meter dengan halaman didepan rumahnya.
Tidak terdengar suara sahutan dari dalam rumah. “Assalamualaikum” Harispun mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Kali ini juga tidak terdengar suara sahutan sang Ibu yang sedang dalam keadaan sakit. Kali ini Haris mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu.
Tampak kekhawatiran di wajah Haris. Firasatnya mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada ibunya. Betapa tidak, dari tadi ibunya tidak juga menyahut salamnya. Sudah beberapa kali pintu rumahnya yang reyot digedornya, tapi suara yang diharapkannya belum juga terdengar.
Saat itu, hari begitu panas. Matahari bersinar begitu terik menembus kulit muka haris yang nampak cemas dengan keadaan ibunya. Orang-orang tidak nampak berkeliaran di desa sungai penibung. Hidupnya bagaikan sendiri dalam sulitnya hidup ini.
Tiba-tiba datang seseorang paruh baya dengan wajah yang selalu terpancar senyum dari bibirnya. Ternyata dia adalah pak Mudi, tetangga Haris yang biasa memberinya uang. Pak Mudi ini merupakan salah satu orang yang terpandang di kampung sungai penibung. Tanahnya yang luas  ditanami berbaris-baris kelapa. Di sanalah biasanya Haris bekerja membantu pak Mudi.
“Kamu mencari ibumu?” kata pak Mudi dengan melemparkan senyum kepada haris. “ ia pak” jawab Haris dengan singkat. “daritadi aku ketuk-ketuk pintu tapi ibu tidak ada menyahut dan membukakan pintu untukku” sambung  Haris. “bapak juga daritadi tidak melihat ada ibumu. Biasanya dia duduk diluar”
***
“bapak…aku mau sekolah. Aku ingin seperti yang lain.” Ucap haris kecil. “nanti ya nak, kalau bapak ada uang” jawab sang bapak untuk menenangkan keinginan anaknya. “jawabnya itu terus…aku mau sekolah” teriaknya sambil menangis. “iya nanti bapak carikan uangnya. Udah teruskan mainnya dengan udin bapak mau istirahat dulu” jawab bapak haris menenangkan sang anak.  
“tuh dengarkan din.  Aku nanti mau sekolah. Aku mau jadi kepala desa, kamu mau tidak jadi sepertiku din?” kata haris kepada udin teman main congkaknya. “ ah aku ngak mau, nanti aku kayak pak kades yang kemarin dibawa pak polisi kata bapakku dia maling uang.  Aku mau jualan aja kayak bapakku”  jawab udin membalas tawaran Haris. ”hmm… gitu ya din. Tapi aku tidak mau seperti dia din. Aku tidak mau ditangkap polisi nanti kasihan mamaku” harispun menanggapi.
 ah kamu curang ne” Harispun berteriak. Ternyata udin berbuat curang saat  bermain congkak.  Congkak adalah sebuah permainan tradisional yang dimainkan oleh 2 orang  terdiri dari papan congkak dan biji congkak. Biasanya papan congkak terbuat dari kayu, plastik, bahkan bisa dibuat ditanah dengan membuat melubangi tanah. Papan ini terdiri dari 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil disisi pemain dan lubang besar disisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain. Setiap pemain bergantian mengambil buah dari salah satu lubang miliknya kemudian meletakkan satu ke lubang sebelah kanannya dan seterusnya.
“hehe… akhirnya ketahuan juga” ucap udin dengan malu-malu. “ permainan aku sebenarnya mati ni. Sekarang giliranmu” tambah udin yang sudah ketahuan bermain curang. “huh… kecil kecil dah pandai curang” ucap haris. “hehe…” udin hanya bisa senyum-senyum karena udah terlanjur malu.
Betapa bahagianya anak itu. Haris kecil belum begitu mengerti dengan kondisi orang tuanya yang hidup dalam garis kemiskinan. sang ayah mendengar percakapan putranya dan berkata  “Do’akan ayah semoga ayah dapat uang banyak”. “ayah mau kemana?” jawab haris yang masih berusia 6 tahun. “besok ayah mau pergi keibukota untuk mencari uang sekolahmu” pesan sang ayah.
Keesokan hari ayah Harispun pergi meninggalkan istri dan anaknya. Dia harus pergi keibukota untuk mencari uang. Harispun hanya bisa terdiam. Sang ayahpun mencium kening putranya dan pergi. Tak lama kemudian sang ayah sudah menghilang dari pandangan si Haris.
***
Haris tak ingin lagi kehilangan orang yang ia sayangi. 4 tahun yang lalu ia telah kehilangan ayahnya yang sampai saat ini belum tau kemana arahnya. Kini ia harus dihadapkan pada keadaan ibunya. “coba kamu ketok lagi iris” kata pak mudi. “kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibumu” terangnya lagi untuk menenangkan Haris yang mulai gelisah.
Setelah lama di gedor belum juga terdengar suara ibu haris. “bagaimana ini pak? Ibu tidak menyahut panggilan Haris. Apa ibu masih marah dengan haris karena tadi pagi lambat bangun” ucap haris. Terlihat mata Haris kini sudah mulai berkaca-kaca. “ya udah. Kita dobrak aja bagaimana?” sahut pak Mudi memberikan solusi. “nanti bapak yang akan memperbaiki pintumu” tambahnya.
Harispun setuju untuk mendobrak pintu rumahnya yang sudah tampak tua. Maklum rumah itu merupakan rumah peninggalan neneknya Haris yang telah meninggal ketika Haris berusia 2 tahun. Walaupun rumah tua, ternyata mereka berdua kesulitan untuk mendobrak rumah itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pintu itu berhasil terbuka.
Setelah pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Haris melihat kondisi ibunya yang terlihat tidak berdaya diatas tikar. Selama ini haris dan ibunya tidak pernah merasakan empuknya tidur diatas kasur. Selama ini mereka hanya tidur beralaskan tikar. Begitu kasihan melihat penderitaan yang dialami oleh ibu haris. Matanya hanya bisa menatap anaknya yang matanya sudah berkaca-kaca.
“nak…” panggil ibunya lirih. Harispun mendekati ibunya yang sedang sekarat. “ibu sudah tidak kuat lagi nak. Tolong ambilkan kotak didalam lemari itu nak” sambung ibunya. Harispun mengambil kotak dilemari reot itu. “ ini bu kotaknya, apa itu bu?” ucap haris penasaran. Ibunya membuka kotak dan mengambil sebuah benda dari kotak itu. Benda itu adalah sebuah kalung yang terbuat dari rotan. “ pakai ini nak. Ini pemberian ayahmu sebelum iya pergi. Carilah ayahmu, gapai cita-citamu nak. Uhuk-uhuk… Laillahailallah” inilah kata-kata terakhir yang diucapkan ibunya. Kini sang ibupun telah pergi dengan tenang ke hadirat Allah yang maha kuasa. Air matapun terkucur deras dari anak ini. Pak mudi yang menemaninyapun tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.
Setelah pemakaman sang ibu Harispun berpamitan kepada pak mudi untuk pergi mencari ayahnya sesuai dengan amanat ibunya. Ia ditemani oleh Badrun, tetangganya. Selain itu juga haris mengucapkan terima kasih kepada pak mudi yang telah membantunya selama ini. “ ini bekal untukmu selama perjalanan nak. Hati-hati dijalan ya. Bg Badrun akan menemanimu.” Ucap pak mudi kepada haris. Harispun hanya mengangguk.
Perlahan-lahan bayangan haris dan badrunpun mulai menghilang. Kini ia hanya berharap akan bertemu dengan ayahnya yang telah lama meninggalkannya. Kalau dibilang hidup ia seakan mati tanpa orang tuanya. Tapi dibilang mati dia masih bisa bernafas. Betapa tidak beruntungnya nasib anak ini. Sekecil ini ia harus menanggung beban seberat ini.

Sabtu, 21 April 2012

SEMILIR ANGIN, KAPANKAH?

Oleh : Afriansyah
diharapkan dengan adanya cerpen ini kedamaian dinegri tercinta akan terwujud. dan semoga saudaraku dipalestina dapat merasakan awan kemerdekaan. amin
selamat membaca!!!


“Praannggg....”
Bunyi itu pun terdengar sampai ke kamar Ridwan. ”suara apa itu?” ucapnya dalam hati. Iapun melangkahkan kakinya dan mencari apa yang sedang terjadi. Tampak ibunya sedang gemetar dan hanya diam terpaku di dapur. ”ada apa bu?” ucapnya. Ibunya terlihat pucat dan berkata ”ibu tak sengaja memecahkannya. Apakah ini ada pertanda buruk?”. Diapun teringat akan sosok ayahnya yang lagi terlibat konflik dengan desa sebelah. Kedua desa, yaitu desa kanjuhuran dan kusangin memang tidak pernah akur selama beberapa tahun ini dan mereka sering terlibat konflik berdarah.
Ridwanpun bergegas pergi keluar tanpa memikirkan tangannya yang luka. ”kamu mau kemana nak?” ucap seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya itu ”lukamu belum sembuh” sambungnya. Diapun langsung pergi menemui ayahnya. ”aku ingin bertemu ayah bu” jawabnya dari kejauhan. ”Ya tuhan lindungilah anak dan suamiku” do’anya kepada sang Maha Pencipta.
Sambil membersihkan beling yang berserakan, ibunya pun merasa gelisah. Bagaimana tidak perkelahian minggu lalu saja telah melukai anaknya. Saat itu Ridwan disabet menggunakan parang dan lukanya cukup serius. Untung saja ia masih bisa diselamatkan. Ia takut hal yang sama akan terjadi pada suaminya. ”kapankah semua ini akan berakhir?” tanyanya dalam hati. ”seperti tak ada habisnya” ujarnya. Diapun hanya bisa terduduk lemas di depan pintu menanti kabar sang suami.
***
Desa Kanjuhuran dan desa Kusangin adalah dua desa yang bertetangga di kabupaten simuba. Dulunya kedua desa hidup dengan rukun. Tapi beberapa tahun terakhir ini kedua desa tampak tegang. Entah siapa yang memulai konflik ini. Tapi konflik ini terjadi tidak lama setelah pak Mukhlis, yang juga ayahnya Ridwan diangkat warga desa sebagai kepala desa.
Konflik kedua desa ini dilatarbelakangi oleh batas wilayah kedua kampung. Setiap ada masalah kecil, kedua desapun menjadi tegang. Sudah beberapa kali dilakukan proses perdamaian antara kedua kampung, dan sudah beberapa kali pula perjanjian itu hanya hitam diatas putih.
Sudah banyak yang harus dikorbankan dari pertikaian antara kedua kampung. Mulai dari waktu, harta benda, sampai kepada nyawa. Hidup damai dan tentram hanyalah menjadi mimpi yang mungkin suatu saat akan menjadi kenyataan bagi kedua kampung.
***
Dari jauh terlihat seorang sosok yang sedang memapah orang yang terluka. ”mak, tolong bapak mak! Bapak terluka” suara sosok itu dari kejauhan yang tidak terdengar jelas. Sekejap saja sosok yang sedang duduk didepan pintupun beranjak dari peraduannya. Sosok itupun segera berlari mendatangi kedua sosok itu. ”kenapa dengan bapak mu nak?” tanya ibu yang tua renta itu. ”bapak tersabet parang mak” jawabnya sambil menghela nafas. ”aku menemukannya di perbatasan desa” sambungnya. ”bawa bapakmu masuk” ucap ibu syariah-ibu Ridwan-.
Akhirnya, konflik kedua desa dapat juga mereda. Pak Drajat-orang kepercayaan pak Mukhlis- mau berunding dengan pak Rahmat-kades kusangin-. Dengan adanya perundingan ini ketegangan dua desapun dapat dikurangi untuk sementara. Namun bukan berarti konflik ini benar-benar berhenti. Sudah berulang kali perjanjian hanyalah jadi perjanjian, tidak pernah direalisasikan dalam tindakan yang nyata. Kedua desa sepakat untuk menghentikan konflik yang sedang berlangsung. Mungkin mereka sudah lelah dengan semua yang terjadi. tapi demi harga diri mereka, hal itu mereka kesampingkan. Bagi mereka lebih baik mati membela kampung dari pada harus mengalah dan menyerahkan batas desa.
Haripun berlalu, kini tidak tampak lagi konflik badan antara kedua desa. Tetapi suasana tegang antara kedua desa masih terasa. Warga kanjuhuran yang biasa mencari nafkah di perbatasan kedua desapun tidak berani untuk mendekat dan bekerja. Mereka hanya beraktifitas didalam kampung.
***
”maling...maling...” terdengar suara teriakan disubuh hari. Mendengar teriakan itu, wargapun terbangun dan langsung mencari sumber teriakan. Dilihat warga dua orang suami istri yang berdaya sedang terkapar di ruang tamu rumah mereka. Pintupun dalam keadaan terbuka. Ternyata itu adalah pak Syukron dan istrinya. Maling tersebut tidak hanya mengambil harta pak Syukron tapi juga melukai keduanya.
Dari kejauhan, tampak sosok yang sedang kekelahan seperti habis mengejar sesuatu. ”malingnya lari kesana” ucapnya terengeh-engeh. Ternyata itu adalah si Madin. Ia adalah penjaga pos ronda. ”kemana?” tanya seorang warga untuk memperjelas. ”itu...” ucapnya sambil. ”kemana?” tanya warga yang lain. ”kedesa sebelah”. ”apa?” wargapun mulai curiga bahwa maling tersebut adalah warga desa kusangin.
Tiba-tiba ditengah mereka datanglah Ridwan yang terbangun karena teriakan tadi. ”ada apa ini?” ucapnya keheranan. ”ini...pak Syukron kemalingan. Pak Syukron juga dibacok oleh tu maling” ucap madi-salah seorang warga desa-.”malingnya lari kedesa kesebelah wan” sambar Madin. Ridwanpun merasa heran dengan semua ini. Bagaimana mungkin malingnya bisa dari desa sebelah. Perbatasan kedua desa saja dibatasi oleh dua orang penjaga di masing-masing desa. ”sudahlah, biar aku yang akan menyelesaikannya. Sekarang kalian bantu pak Syukron”
Ridwanpun bergegas pergi kerumah untuk menemui ayahnya. Sesampainya di rumah, ia melihatnya ayahnya ada di ruang tamu bersama pak Drajat. Kebetulan waktu itu pak Drajat sedang bermalam di rumah pak Mukhlis. Iapun segera menghampiri ayahnya. ”apa yang terjadi tadi nak?” tanya ayahnya. ”rumah pak Syukron disatroni maling” jawabnya. ”maling?... pasti maling itu dari desa sebelah” sambung pak Drajat. ”kok bapak bisa tahu?” tanya Ridwan keheranan. ”memang benar apa yang dikatakan pak Drajat, Ridwan?” tanya ayahnya. ”kata pak Madin sih seperti itu” jawabnya.
Hati pak Mukhlispun memanas mendengar berita itu. ”bapak tenang saja. Belum tentu lagi malingnya adalah warga desa sebelah. Kita harus membuktikannya” kata Ridwan yang ingin kedua desa hidup dalam perdamaian. ”tak mungkin” sela pak Drajat. ”bapak tidak percaya dengan pak Madin. Ia penjaga pos, tentu ia melihat kemana maling itu pergi!” tambahnya. Pak Mukhlispun bingung dengan keadaan ini. Ia harus memilih antara anaknya dan orang kepercayaannya. ”pak, sudahlah pak. Kita akhiri saja semua konflik ini. Tidak ada gunanya konflik yang terus berkepanjangan ini” ucap Ridwan mencoba untuk membuka hati ayahnya. ”tidak bisa!!” sambar pak Drajat.”ini adalah demi harga diri. Kalau kita berdamai kepada mereka, berarti kita kalah” sambungnya. ”bapak jangan coba mempengaruhi bapak saya ya?”
Suasana di rumahpun menjadi tegang. Perang mulut antara Ridwan dan pak Drajatpun mulai berkoar. Ridwanpun akhirnya memutuskan pergi kedesa sebelah untuk menyelesaikan kasus ini. Pada awalnya ayahnya tidak mengizinkan Ridwan untuk pergi karena dia takut terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya itu. Tapi kemauan si Ridwan akhirnya memaksa ayahnya untuk mengizinkannya pergi kedesa sebelah.
”perdamaian itu akan datang” ucapnya sambil berlalu meninggalkan rumah. Dengan mengusung perdamaian iapun pergi kedesa sebelah untuk berunding. Ia ditemani oleh si Amar teman dekatnya. Ia harap apa yang ia lakukan ini akan membawa semilir angin perdamaian.
Sesampainya di perbatasan desa ia dan Amar dicegat oleh orang yang tidak dapat ia kenali. Disitulah mereka dibacok, hingga akhirnya Ridwanpun tewas. Ternyata Amar dapat menyelamatkan diri dari peristiwa itu, walaupun ia menderita luka bacok. Amarpun kembali kedesa dengan luka parah dibagian kaki.
***
”pak, Ridwan kemana?” tanya bu Syariah kepada suaminya. ”Dia pergi kedesa Sebelah bu” ucap suaminya. ”perasaanku jadi tidak enak gini pak? Ada urusan apa dia pergi kesana?” tanya ibu Ridwan. ”Dia mau berunding dengan desa sebelah” ucap suaminya.
Datanglah Amar dengan luka parah yang dideritanya. ”ada apa Mar? Mana si Ridwan?” tanya pak Mukhlis. ”Si Ridwan Meninggal pak. Ia dibacok orang di perbatasan” ucap si Amar terengeh-engeh. ”Apa? Siapa pembunuhnya? ” tanya pak Mukhlis dengan perasaan sedih.
Terlihat sosok yang sedang berlari kearah rumah Pak Mukhlis. ”ada berita pak!” ucapnya. Ternyata itu adalah si Madi. ”ternyata malingnya adalah si Udin warga desa kita” ucapnya. ”si Madin hanya berbohong pak, ia disuruh oleh pak Drajat” sambungnya. Mendengar laporan ini pak Mukhlis merasa bersalah dengan anaknya. Iapun bertekuk dan menyadari bahwa sikapnya selama ini salah. Ia pun berjanji akan mewujudkan cita-cita anaknya untuk mewujudkan perdamaian.
”kita datangi pak Drajat!” kata pak Mukhlis dengan tegas. Warga bersama kepala desapun mendatangi rumah pak Drajat. Disana mereka menemukan rumah pak Drajat dalam keadaan kosong. Ternyata pak Drajat telah mengetahui hal ini dan segera pergi untuk menghilangkan jejak.
Akhirnya, pak Mukhlis luluh hatinya setelah kematian anaknya. Kini tak ada lagi yang menghalangi ia untuk berunding dengan desa sebelah. Selama ini ketika pak Mukhlis ingin berunding dengan desa sebelah, pak Drajat selalu menghalangi perundingan itu. Hal ini dilakukan pak Drajat untuk mengambil alih kekuasaan di desa ini. Terakhir, terdengar kabar bahwa orang yang mebunuh Ridwan adalah orang suruhan pak Drajat.
Jenazah Ridwanpun akhirnya dibawa pulang untuk dimakamkan. Didepan jenazah anaknya pak Mukhlis berjanji akan mewujudkan perdamaian di dua desa. ”perdamaian yang engkau impikan akan segera terwujud nak. Terima kasih karena engkau telah membukakan pintu hatiku. Sebentar lagi kami akan  merasakan nikmatnya semilir angin yang engkau perjuangkan” ucapnya.